Oknum Guru SMPN 1 BNS Diduga Kuat Aniaya Siswa Hingga Berdarah

429

dutapublik.com, TANGGAMUS – Supangat, salah satu Guru mata pelajaran SMPN 1 Bandar Negeri Semuong (BNS) Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung, diduga telah melakukan kekerasan terhadap SA, siswa kelas 8C.

Akibat dugaan penganiayaan tersebut, SA mengeluarkan darah dari telinga bahkan memar-memar di bagian dada.

Hal itu yang diungkapkan Joni, selaku orang tua SA, saat dikonfirmasi awak media. Joni membenarkan peristiwa penganiayaan yang dialami oleh anaknya. Bahkan, selaku orang tua SA,  Joni tidak terima atas kekerasan yang dilakukan oleh seorang guru terhadap anak didiknya.

“Apalagi kekerasan fisik yang menimpa anak saya  sampai mengluarkan darah dari telinga dan juga memar-memar di bagian dada,” ujar Joni, pada Kamis (9/2).

Menurut Joni, peristiwa dugaan kekerasan fisik itu terjadi pada saat  jam sekolah pada tanggal 7 Februari 2023 lalu.

Baca Juga:  Diduga Lakukan Gratifikasi, Aktivis Karawang Segera Laporkan Rambudi Selaku Kasi SDA Dinas PUPR Karawang Ke Kejaksaan

“Namun, baru hari ini anak saya menceritakan kejadiaan yang menimpa dirinya, dengan berdalih sebagai bentuk hukuman terhadap SA karena telah melompat lewat jendela dari ruang kelas di saat jam belajar,” ungkapnya.

Dijelaskan Joni, kejadian berawal dari tuduhan teman-teman satu kelas SA yang mengatakan jika SA melompat dari jendela Kelas 8C. Kemudian ditanya Supangat.

“Kemudian buku tulis anak saya diambil supaya anak saya datang menghadapnya untuk mengambil buku tulis. Saat anak saya menghadap Pak Supangat yang tujuannya untuk mengambil buku tulis miliknya yang ditahan, pada saat itulah anak saya dipukuli sampai luka memar-memar di dada dan juga mengelurakan darah dari telinga bagian kiri. Semenjak peristiwa kekerasan itu terjadi anak saya sering merasakan pusing,” bebernya.

Baca Juga:  Hadiri Tasyukuran Satu Abad NU di Madina Sumut, Ketua PWNU Riau : Kita Berharap NU Dapat Melanjutkan Harapan Dari Pendiri NU KH.Hasyim Asy'ari

Selaku orang tua, Joni dengan tegas mengatakan, bahwa dirinya tidak terima atas apa yang telah terjadi yang menimpa anaknya yang diduga dilakukan oleh seorang guru yang seharusnya lebih paham dalam melakukan pembinaan terhadap anak didiknya sendiri.

“Yang jelas saya khawatir dengan fisik anak saya. Apalagi telinga anak saya sudah sampai mengeluarkan darah. Karena telinga itu bagian dari kepala. Kita gak tau apa yang akan terjadi efek dari penganiayaan itu di kemudian hari. Sekarang aja anak saya sudah sering merasakan pusing,” pungkasnya. (Sarip)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *