Kelawar, Kuliner Khas Dari Bumi Tuah Bepadan Lamtim

638

dutapublik.com – LAMPUNG TIMUR Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, bermacam-macam suku, bahasa, adat, budaya dan kekayaan kuliner khasnya yang sudah terkenal sampai ke mancanegara.

Kali ini kita akan coba mengulas dan mengenal lebih dekat lagi kuliner dari ujung pulau Sumatera yaitu Lampung tepanya di Kabupaten Lampung Timur.

Kelawar namanya, tentu tak asing lagi di telinga orang Lampung terutama Lampung Timur, makanan ini memiliki cita rasa yang khas dan unik, kekayaan rempah yang kita miliki membuat makanan ini cukup meningggalkan kesan bagi para penikmat kuliner daerah.

Kelawar, biasa dibuat dari bahan daging, yakni daging sapi, daging kambing ataupun ayam. Daging ini sebelumnya dibakar dahulu atau menyerupai sate, tingkat kematanganya tergantung selera bisa matang, atau cuma setengah matang.

Kelawar atau untuk masyarakat Lampung Timur khususnya Sekampung Limo Mego juga disebut Cucuk. Bahan utama selain dari daging, adalah santan mentah kelapa tua, dan belimbing wuluh yang di iris tipis-tipis, ditambah bumbu rempah (Bumbu Balak) bawang merah, sedikit gula merah, dan kecap manis.

Rasa yang timbul dari perpaduan bumbu dan rempah itu akan muncul rasa Manis, Asam, Asin dan Pedas.

Untuk anda yang mempunyai riwayat kolesterol dan darah tinggi jangan khawatir, konon katanya daging dan santanya tidak akan membuat penyakit anda kambuh, pasalnya blimbing wuluh yang ada di bumbunya adalah sebagai penawarnya, makanya tak heran banyak masyarakat yg menyukai kuliner khas Lampung ini.

Dulu makanan ini adalah hanya golongan tertentu saja yg bisa membuatnya, dan biasanya kita bisa temui kuliner ini pada acara-acara adat (pernikahan), hitanan dan syukuran.

Tapi seiring jaman, makanan ini pun sekarang tak sulit untuk mencarinya, sebab sudah dijual di rumah-rumah makan, Keunikan lainya adalah makanan ini dibuat atau di racik oleh para kaum Adam atau pria, para wanita hanya membuat bumbu balaknya saja.

Kuliner Kelawar/cucuk ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai warisan turun temurun dari nenek moyang, sehingga selain kuliner ini nikmat di lidah, kuliner ini juga perlu dilestarikan dan hindarkan dari orang-orang yang suka menyalahgunakan kuliner ini.

Bangsa Indonesia tentunya harus bangga akan keanekaragaman adat budaya setiap daerah, karena setiap daerah pasti memiliki kuliner khasnya masing-masing. (AVID/r)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *