Ajakan Menteri Pertanian Tanam Padi Setahun Tiga Kali Dikritik Kades Sukaraja

847
dutapublik.com, KARAWANG – Menteri Pertanian Sahrul Yasin Limpo, kemarin (14/11) berkunjung ke Desa Gombongsari Kecamatan Rawamerta Kabupaten Karawang menyaksikan panen raya di desa tersebut. Hal penting dari kunjungan tersebut adalah ajakan Menteri kepada petani untuk melaksanakan tanam padi tiga kali dalam setahun, hingga bisa panen tiga kali.

“Bapak, Ibu sekalian, kita harus bisa membuat negeri ini panen 3 kali. Kita rumuskan yuk. Dan saya mau Kecamatan Rawamerta di Karawang ini menjadi contohnya pertanian hebat di Jawa Barat,” kata Mentan, kemarin (13/11).

Berkaitan dengan hal tersebut, A. Sukmana yang akrab dipanggil Haji Keling, Kepala Desa Sukaraja Kecamatan Rawamerta memberikan kritikan. Dia mengapresiasi ajakan tersebut, mengingat bila itu bisa dilaksanakan dengan baik dan berhasil, bukan hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tapi juga bisa meningkatkan produksi nasional dan bisa menjamin ketersediaan stok pangan.

Tapi, menurut Haji Keling, program itu bukan tidak mungkin akan banyak menemui hambatan yang dapat menghambat bahkan menggagalkan upaya para petani. Dia memberi contoh, tentang ketersediaan air.

“Nyawah dua kali saja dalam setahun sering terjadi keluhan petani tentang kekurangan air. Dengan demikian perlu koordinasi yang baik dengan pihak-pihak yang punya otoritas,” ungkapnya.

Selain itu, masih menurut Haji Keling, bahwa pesawahan di Kabupaten Karawang ini berasal dari Waduk Jatiluhur melalui Kalimalang, yang diketahui juga bahwa air tersebut bukan hanya diperuntukkan untuk petani sawah, tapi juga dialirkan ke sentra-sentra industri di Jabodetabek.

“Ya kalau kunjungan itu, saya mewakili masyarakat desa, bagus, mengapresiasi punya loyalitas yang tinggi pemerintah, Bapak Sahrul Yasin Lompo, ya kan, itu sangat bagus sekali, sangat mengapresiasi, dan tentang kunjungannya pasca panen raya,” ujar Haji Keling saat diwawancara.

“Soal Menteri Pertanian mendorong petani Rawamerta untuk tanam padi tiga kali dalam setahun, itu ide bagus, mungkin akan dijadikan pilot project, percontohan, di Jawa Barat bahkan mungkin nasional, cuma yang jadi kendala ini masalah tentang pengadaan air, berarti kita harus berhubungan dengan PJT 2 khususnya dengan pengairan itu sendiri, jangan sampai nanti masyarakat melakukan tanam tiga kali, air tidak ada, ini akan berdampak kerugian yang lebih besar untuk masyarakat itu sendiri. Itu yang dikhawatirkan,” tambahnya. (uya)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *