Antara Tradisi Dan Pandemi

610

dutapublik.com – KARAWANG Tradisi mudik pada saat hari raya Idhul Fitri atau lebaran sudah sejak lama ada di Indonesia dan bagi warga terutama umat muslim tradisi mudik ini merupakan suatu tradisi yang  jadi kewajiban dilaksanakan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tradisi mudik lebaran sangat penting bagi masyarakat. Selain untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga di kampung, mudik lebaran juga sebagai acara sakral untuk bersilaturahmi dan saling memohon maaf di antara sesama keluarga serta tetangga sekitarnya.

Bagi seseorang yang telah lama pergi merantau, mudik lebaran adalah momen yang paling ditunggu dan sangat spesial untuk bisa berkumpul kembali dengan keluarga di kampung.

Maka, meskipun ada larangan mudik lebaran tahun ini namun tetap masih banyak warga yang melaksanakan mudik, bahkan nekat menerobos penyekatan yang ada di sejumlah titik.

Fenomena ini makin menguatkan legitimasi mudik lebaran sebagai acara tahunan yang memiliki nilai historis, tradisi dan spiritual yang sangat tinggi bagi masyarakat.

Pemerintah secara resmi telah melarang mudik lebaran tahun ini. Tindakan Pemerintah ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengantisipasi munculnya klaster baru Covid-19 yang diakibatkan adanya kerumunan massa dalam skala besar.

Pemerintah pun mungkin sudah belajar banyak dengan apa yang tengah terjadi di India sekarang ini, di mana lonjakan kasus baru dan angka kematian akibat infeksi virus Corona meningkat sangat tajam.

Seperti diketahui, pemicu semua itu diduga akibat adanya acara ritual keagamaan Kumbh Mela di sungai Gangga. Acara tradisi mudik lebaran di Indonesia memiliki kemiripan dengan acara Kumbh Mela di India yaitu adanya kerumunan massa dalam skala besar, dan hal tersebut di khawatirkan akan memicu munculnya klaster baru Covid-19.

Hal inilah yang mendorong Pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan larangan mudik lebaran di masa Pandemi ini.

Langkah yang diambil Pemerintah ini sebetulnya bertujuan untuk melindungi dan menghindarkan rakyat dari ancaman penularan virus Corona, karena pada dasarnya kita belum benar-benar terbebas dari ancaman penularan virus Corona dan masih dalam situasi Pandemi Covid-19.

Tradisi mudik lebaran dan Pandemi Covid-19 telah menempatkan situasi dilematis bagi Pemerintah maupun masyarakat. Dengan sikap arip dan bijaksana serta dengan perhitungan yang matang diharapkan bisa mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi situasi dilematis ini. Sehingga ketakutan dan kekhawatiran terjadinya klaster baru Covid-19 dapat terhindarkan. (endang andi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *