dutapublik.com, SEMARANG – Beberapa hari lalu media digemparkan adanya pemberitaan kasus di Kabupaten Sukoharjo tentang pmberitaan adanya penyanyi dangdut di salah satu acara Pejabat, membawakan sebuah lagu dangdut memakai kostum dan goyangannya yang dianggap terlalu tidak sopan.
Dikerahui, kejadian tersebut berlangsung dalam acara Halalbihalal yang dihadiri oleh seluruh Camat dan Lurah se Kabupaten Sukoharjo.
Sontak saja, hal itu mengundang reaksi kecaman dari berbagai masyarakat, salah satunya dari organisasi besar yg menaungi seniman-seniman dangdut di Indonesia bernama PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu/Dangdut Indonesia), milik raja dangdut H. Rhoma Irama.
Atas kejadian tersebut, Ketua DPD PAMMI Provinsi Jawa Tengah Drs. Frans, S.P., didampingi Humas DPD PAMMI Havid Sungkar angkat bicara, pihaknya menyayangkan hal itu bisa terjadi. Apalagi di masa pandemi ini yang mana dapat merusak citra musik dangdut itu sendiri.
Ia mengimbau kepada seluruh seniman yang berprofesi khusus lagu-lagu dangdut yg ada di Jawa Tengah untuk sudah saatnya dalam pementasan sekarang ini Biduan dangdut dalam memberikan hiburan lewat menyanyi lebih mengutamakan vokal yang baik dan kostum yang sopan.
“Penonton dangdut itu mengikuti apa yang ditonton bukan meminta dangdut harus dengan goyangan erotis. Tolong mulai skrg image/pendapat masyarakat kalau biduan dangdut harus identik goyangan seksi dan erotis harus bisa dirubah image tersebut,” katanya, pada Minggu (23/5).
Menurut Frans, Penyanyi berpakaian membuka aurat dan goyangan yang membuat porno aksi itu bukan suatu hiburan, tapi malah bisa mengundang penonton yang melihat melakukan hal2 yg negatif.
Apalagi dalam acara tersebut, kadang ada anak-anak kecil yang menonton. Maka jangan heran banyak kejadian anak-anak di bawah umur yang melakukan pemerkosaan karena salah satunya dipicu dengan tontonan hiburan tersebut.
Lanjut Frans, musik dangdut awal susah-susah dirintis dari masyarakat bawah sampe sekarang sudah bisa diterima masyarakat gedongan, jangan sampe dirusak oleh oknum penyanyi dangdut yang tidak tau sejarah musik dangdut.
“Saya tegaskan, itu dilakukan oleh oknum penyanyi, karena sekarang banyak penyanyi dangdut di Jateng binaan PAMMI yang sudah sopan dalam pentas,” tegasnya.
DPD PAMMI Jateng juga mengapresiasi saat ini televisi Nasional sudah sering tiap tahunnya mengadakan lomba kontes dangdut yang mengutamakan vokal dan kostum yang sopan serta menerbitkan para penyanyi dangdut yg berkualitas, seperti Nasar KDI, Lesti DA, Reza, Evi Masamba, Fildan dan masih banyak yang lain.
Itu membuktikan, kalau musik dangdut bisa diterima masyarakat serta tidak harus identik dengan kostum dan goyangan yang tidak sopan.
Humas DPD PAMMI Jateng Havid Sungkar juga mengimbau kepada Pemerintah Jawa Tengah dan pihak berwajib, dalam hal ini Polda Jawa Tengah bagian intelkam untuk bisa bersama bergandengan tangan dengan organisasi PAMMI.
Yang mana bisa memerintahkan Bupati/Wali Kota serta Polres di setiap Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk bersama PAMMI yang sudah ada di setiap daerah untuk bisas berperan aktif serta ikut mengawasi setiap pementasan musik dangdut di daerahnya, dalam rangka ikut membangun moral dan mental anak bangsa di daerah Jateng melalui tontonan musik dangdut, jangan sampai melihat tontonan musik hiburan yang tidak mendidik.
“Seperti motto PAMMI, yaitu Bermusik Dan Menghibur Dengan Akhlak Mulia. Harapannya semoga hal ini jangan sampai terjadi lagi dan bisa dipahami khususnya artis dan penyelenggara pementasan musik dangdut di Jawa Tengah.”
“Hiburan musik dangdut itu jangan dianggap musik yang tidak berkelas dan berkesan negatif, karena dari oknum penyanyinya tersebut dalam membawakan musik dangdut,” kata Havid Sungkar saat menutup pembicaraannya. (ysn)





