Duta Publik

Ketua Umum DPA LAMR Tan Seri Syahril Abu Bakar: Saya Minta PBNU Cabut Statement Terhadap H.T. Rusli Ahmad

63

dutapublik.com, PEKANBARU – Terkait adanya statemen dari Wasekjen PBNU yang juga Ketua Caretaker PWNU Riau yang meminta agar Ketua PWNU Riau kedepan harus alumni pondok dari Jawa seperti Tebu Ireng, Ponpes Bahrul Ulum, Ponpes Mamba’ul Ma’ari dan lainnya serta pernyataan Ketua PC GP Ansor Rohil yang mengatakan bahwa H.T.Rusli Ahmad tidak layak dipanggil Kyai membuat banyak tokoh Riau meradang dan angkat bicara.

Ketua DPA LAM Riau Datuk Tan Seri Syahril Abu Bakar kepada awak media mengatakan, H.T. Rusli Ahmad itu adalah seorang tokoh pemersatu Riau yang sama-sama harus dihormati.

“Bagaimanapun Rusli Ahmad adalah Tokoh di Tanah Riau ini, terlepas dari segala kelebihan maupun kekurangannya. Dia adalah sosok yang telah memperjuangkan kepentingan bangsa ini ke Pusat untuk kepentingan Riau,” ujar Syahril.

“H.T. Rusli Ahmad itu selalu sebagai penengah, mediator dan juga selalu mengedepankan kepentingan bangsa ini. Masih kita ingat saat munculnya Gerakan Riau Merdeka, T. Rusli Ahmad dengan Forum Riau Indonesia Bersatu untuk maju untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan Pusat,” sebut Datuk Tan Seri Syahril Abu Bakar.

Lanjutnya, terkait pilihan secara pribadi ataupun kelompok itu tidak ada masalah, ini adalah Demokrasi. “Jadi saya mintalah kepada kawan – kawan di PBNU jangan dikarenakan orang Pusat melakukan cara Arogansi seperti itu.”

“Kita janganlah munafik, kita tahulah permainan di Jakarta, kita orang daerah bukanlah orang – orang bodoh amat. Karena kebetulan saja mereka tinggal di Jakarta. Jika Ibukota pindah ke IKN, sama juga mereka dengan kita, menjadi orang daerah bukan orang pusat lagi. Jadi janganlah terlalu berlebihan disitu, apalagi kita ini menggunakan nama Islam disitu, kita sama – sama Nahdiyin, saya juga adalah seorang Nahdiyin dan seorang Mutassar di PWNU Riau ini. PBNU jangan terlalu berlebihanlah, apalagi terkait sebutan Kyai, apa pakai SK sebutan Ustad itu, apa pakai SK sebutan Kyai itu,” ucap Ketua LAM Riau.

“Saya katakan selama saya kenal kepada H.T. Rusli Ahmad tidaklah pernah dia minta dipanggil Kyai, karena beliau Ketua PWNU Riau 2 periode, wajar orang-orang memanggilnya Kyai sebagai rasa hormat dari masyarakat.”

“Sebutan Kyai itu panggilan bagi yang dihormati di agama Islam dan bukan hanya khusus untuk orang dari, mohon maaf saya, hanya untuk orang dari pulau Jawa saja. Jika ada statemen terkait panggilan Kyai bagi H.T.Rusli Ahmad, saya minta oknum PBNU itu agar segera mencabut statement tersebut. Itu mengarah kepada rasis namanya. PBNU Itu bukanlah hanya milik orang Jawa saja. Ketua Umum harus segera meluruskan hal ini. Jangan coba mengecilkan H.T. Rusli Ahmad, beliau adalah salah seorang Tokoh Pejuang di Riau ini. Dan baru saja beliau juga mendapat gelar Bapak Toleransi. Dan juga terkait ucapan dari anak kita PC Ansor Rohil, agar statement tersebut segera dicabut,” sebut Datuk Syahril

“Di Tahun Politik ini, silahkan lah melakukan politik masing-masing tanpa mengecilkan atau menjelekkan orang lain apalagi kita sesama orang Riau. Tetap jaga kesatuan NKRI. Jangan lecehkan anak daerah, mari tetap bersatu. Kita harus kompak agar jangan dianggap remeh.”

“Kyai Rusli Ahmad itu banyak membesarkan Riau di forum Nasional, apa bapak- bapak bisa? Rusli Ahmad harus sama-sama kita perjuangkan dan lindungi, apalagi dia adalah Ketua MKA di LAMR di Kepemimpinan saya,” sebut Ketua LAM Riau.

Kemudian jangan mendikotomi alumni pesantren Jawa dan luar Jawa. Apalagi Riau juga dari dulu sudah banyak sekolah agamanya, cuma disini sebutannya bukan pondok pesantren seperti di jawa dan itu kan hanya soal penyebutan. “Kami disini belajar agama di Madrasah atau di Surau ikut suluk dsb.”

Datuk H.T. Rusli Ahmad itu adalah keluarga dari tokoh terkenal, Syech Umar pimpinan rumah suluk di Rohul. (Juntak)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!