Konflik Linmas Versus Pengelola Wisata Mangrove, Sahari : Linmasnya Manja, Makan Maunya Diantarin

511

dutapublik.com – KARAWANG Ekses dari pengelolaan Wisata Mangrove Desa Sukajaya Kecamatan Cilamaya Kulon yang belum profesional berimbas pada konflik yang terjadi antar sesama warga Desa Sukajaya. Dimana saat musim libur lebaran beberapa waktu lalu terjadi kejadian yang tidak mengenakkan yaitu dugaan penindasan terhadap Linmas Desa Sukajaya terhadap Pengelola Wisata Mangrove.

Menyikapi hal ini, Ketua Pengelola Wisata Mangrove, Sahari, membantah anak buahnya melakukan penindasan terhadap Linmas Desa Sukajaya.

“Pada awal lebaran saya datang ke Kades Sukajaya menawarkan ayo kalau ada Linmas silahkan ikut jaga (di Mangrove). Linmas akhirnya ada yang jaga disini,” ujar Sahari belum lama ini.

Lalu ketika terjadi adanya dugaan penindasan terhadap Linmas ia pastikan itu adalah miskomunukasi. “Kita ga arogan. Yang jelas ada miskomunikasi (terkait kejadian di atas),” jelasnya.

Masih kata Sahari, Kades Sukajaya  mengganggap dari kejadian di atas, anak buahnya sudah tidak dihargai. Padahal kata Sahari, Linmas itu bukan pejabat negara yang harus diagung-agungkan. Bahkan kata Sahari kalau Linmas mau rokok dan makan, pihaknya terbuka dan mempersilahkan ke warung yang ada di lokasi wisata.

“Bahasa seorang Kades harunsya bijak ketika ada aduan dari anak buah disaring dulu biar nanti saya panggil semua. Kita jangan sebelah pihak. Saya juga kan masyarakat dia itu juga kalau dia menganggap saya rakyatnya,” terangnya.

Sahari menegaskan adanya perseteruan anak buahnya dengan Linmas karena dianggap manja. “Mau makan pengennya disuguhin, mau rokok maunya disuguhin, emangnya siapa,” ujarnya.

Sementara itu di tempat terpisah, Linmas bernama Maksudi mengaku dimarahi anak buah Sahari, bernama Amuni dan Rasam gara-gara disuruh mengejar mobil salah satu warga luar Desa Sukajaya, padahal tujuan mobil tersebut bukan ke lokasi mangrove.

Selanjutnya kata Maksudi ia dan rekan sesama Linmas dihina oleh anak buah Sahari. Bahkan dikasih makan pun tidak sama sekali.

“Di sia-sia. Makan ga ditawarin ga makan. Boro-boro rokok. Saya kerja sehari saja. Ga dikasih honor,” pungkas Maksudi. (dayat abdul gani)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *