Duta Publik

MA “Diskon” Hukuman Ferdy Sambo Cs, LQ Indonesia Lawfirm Sebut Mahkamah Agung Sarang Mafia

341

dutapublik.com, JAKARTA – Masyarakat Indonesia terusik dengan putusan para wakil Tuhan di Mahkamah Agung (MA) terhadap kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Ferdy Sambo, Putri Cendrawathi, dkk. Dilansir dari Mahkamah Agung, Ferdy Sambo, dibatalkan vonis mati dan dirubah menjadi hukuman seumur hidup. Sedangkan istrinya, Putri Cendrawathi, dikorting diskon 50%.

“Setengah harga Boss, dari 20 tahun menjadi 10 tahun penjara. Bandingkan dengan vonis pengacara Alvin Lim, yang didakwakan ikut memalsukan KTP dengan vonis 4,5 tahun. Padahal, kerugian materi 6 juta rupiah. Jadi, apakah harga nyawa manusia sekitar 13 juta saja di mata wakil Tuhan?,” cetus Kadiv Humas LQ Indonesia Lawfirm, Advokat Bambang Hartono, S.H., M.H., dalam press releasenya pada Rabu (9/8).

Dengan penuh rasa kecewa, Bambang mengatakan, bahwa MA adalah sarang mafia.

“Benar, kan? kata Advokat Alvin Lim, dan almarhum anggota DPR Desmond Mahendra, bahwa Mahkamah Agung Sarang Mafia? Jika benar MA adalah sarang mafia, maka bisa dipastikan bahwa Hakim Agung bukanlah wakil Tuhan, melainkan wakil Hantu. Hanya wakil Hantu yang memenjarakan Advokat pembela masyarakat yang tertipu investasi bodong dan sebaliknya melepaskan pembunuh nyawa manusia.”

“Perhatikan, bahwa ada 2 Hakim Agung yang sama yang memonis Alvin Lim, dan Ferdy Sambo, yaitu Suhadi, selaku Ketua Kamar Pidana dan Suharto selaku Juru Bicara Mahkamah Agung. Sangat miris dan mengkhawatirkan jika para petinggi MA adalah wakil Hantu yang berada dalam ruang paling sakral di Pengadilan dan benteng bagi para pencari keadilan. Lalu apa gunanya Pengadilan jika tidak lagi mencari tempat mencari keadilan melainkan berisi para mafia Hukum? Apakah MA masih akan dipercaya oleh masyarakat?,” sindirnya.

Diceritakan Bambang, Mahfud MD, ketika kecewa dengan vonis Pengadilan yang sempat melepaskan Henry Surya, juga pernah berkata bahwa, walau kita harus tunduk dan patuh pada putusan Pengadilan, namun tidak perlu hormat pada Pengadilan. Hal tersebut dikatakan oleh Mahfud setelah PN Jakarta Barat memonis lepas Henry Surya, dari semua dakwaan pidana. Padahal diketahui, Henry Surya, sudah menipu 24.000 korban dengan kerugian 16 Triliun.

“Mafia Hukum itu Jaksa, Polisi dan Hakim bekerja sama dan merugikan masyarakat,” tuturnya.

Bambang, menambahkan bahwa Indonesia berada dalam Darurat Hukum.

“Bukan hanya MA, Kepolisian dan Kejaksaan Agung sebagai Sarang Mafia. Tetapi kini, tahanan bukan menjadi rumah bagi kriminal, melainkan menjadi tempat pembungkaman tokoh yang tidak sepaham dengan pemerintah dan melawan oknum. Keadilan telah mati di Indonesia. Pemerintah telah gagal dalam memberikan rasa keadilan,” tegasnya.

Sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) telah menjatuhkan putusan terhadap kasasi yang diajukan Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Kuat Ma’ruf, dan Ricky Rizal. MA mengurangi vonis keempat terdakwa.

5 Hakim Agung diturunkan MA dalam sidang kasasi Ferdy Sambo dkk hari ini. Kelima Hakim Agung itu terdiri dari Suhadi, Desnayeti, Suharto, Jupriyadi, dan Yohanes Priyana.

Sidang kasasi Ferdy Sambo, dkk, dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Selama empat jam, kelima Hakim Agung silang pendapat hingga memutus kasasi yang diajukan keempat terdakwa.

MA, juga menyunat vonis kepada istri Ferdy Sambo, yaitu Putri Candrawathi. Di tingkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi, Putri Candrawathi, dijatuhkan vonis 20 tahun penjara. MA, lalu memotong vonis Putri di tingkat kasasi menjadi 10 tahun penjara.

“Amar putusan kasasi, tolak kasasi penuntut umum dan terdakwa menjadi pidana penjara 10 tahun,” ucap Sobandi.

Hal serupa terjadi pada vonis kasasi Kuat Ma’ruf dan Ricky Rizal. Hukuman penjara keduanya kini juga disunat Hakim MA. Kuat Ma’ruf, sebelumnya divonis 15 tahun dan kini berubah menjadi 10 tahun penjara. Vonis penjara Ricky Rizal dari 13 tahun menjadi 8 tahun penjara. (red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!