Oknum Sponsor Ngamuk Namanya Disebut Sebagai Jaringan Mafia TPPO

477

dutapublik.com, JAKARTA – Seorang sponsor meluapkan amarahnya karena tidak terima atas pemberitaan yang sudah dipublikasikan oleh redaksi dutapublik.com pada pemberitaan waktu lalu terkait pekerja migran Indonesia (PMI) yang diduga diproses secara unprosedural. Diketahui sponsor tersebut bernama Riman yang diduga telah memproses PMI atas nama Susi Sulistiani asal Jakarta Timur yang diketahui saat ini berada di negara tempatan timur tengah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi, sangat jelas Susi mengaku mendapatkan perlakuan buruk dari sang majikan yang dijelaskan dalam pemberitaan dutapublik.com.

Sontak Riman tidak terima atas pemberitaan yang sudah dipublikasi oleh tim redaksi dutapublik.

Ia marah-marah kepada wartawan dutapublik.com dan mengancam akan menuntut balik karena merasa tidak senang.

“Maksudnya begini bapa kan langsung masukin dishare nah jadi gini kalau emang gak sesuai fakta maka saya pun akan menuntut balik karena apa, kasus ini lagi saya tangani pak, bapak janhan semena-mena masukin ke media tanpa bukti yang jelas kalau memang bapak pingin jelas bapak datang saja ke rumah bos saya ya jangan main masukan ke media aja pak,” ujar Riman dengan nada tinggi kepada awak media dutapublik.com, beberapa waktu lalu.

“Iya inikan kasus lagi ditindak lanjut pak kalau bapa memang ingin jelas bapak datang saja ke rumah bos saya, saya tunggu ya gitu datang saja ke rumah bos saya jangan share-share di media pak tuh anak semuanya begitu nanti kalau tidak sesuai dengan faktanya saya akan menuntut balik pak iya iya iya betul iya kenapa kasus ini saya lagi tangani tindak lanjuti itu nih kalau saya tidak tangani baru itu baru bapak mau ngshare mau ngapain juga inikan lagi saya tindak lanjutin terkecuali saya tidak tanggung jawab,” ujarnya.

Riman meminta awak media dutapublik.com untuk menemuinya di rumahnya dengan mendesak. “Ok kalau begitu kita ketemuan aja dimana nih pak nih, gitu aja lebih baik kita ketemuan aja jangan main di media sosial kayak begitu gak jelas pak urusannya kan urusan harus sesuai fakta bapak kalau ngedenger sebelah pihak gak bner juga jadi bapak harus melihat faktanya seperti apa gitu pak itu kalau gak bener pencemaran nama baik itu pak gitu, gini pak alamatnya dimana ini bapak alamatnya dimana nih, pokoknya alamat bapak dimana nanti kita ketemuan aja,” tegasnya.

Ketika diarahkan oleh wartawan dutapublik.com untuk komplain ke redaksi, Riman tetap ngotot ingin bertemu dengan awak media.

“Komplennya ke bapak masalahnya apa informasi dengan bapak inikan bapak yang nge-share iya kan bapak kan yang nge-share saya minta alamat Bapak dimana alamat Bapak dimana sok saya tunggu dimana ayo jangan begitu pak harusnya gini media itu adil pak jangan menanggapi sebelah pihak ini atas nama siapa ini, ini bapak atas nama siapa, iya dua belah pihaknya dari siapa dari saya bukan kalau emang faktanya benar baru pak, ini bapak siapa namanya ini minta KTP nya. Pak kalau nyari informasi itu yang detil pak iyaa kalau kedua belah pihak kalau emang gak sesuai fakta itu pencemaran nama baik itu namanya harus bapak teliti dulu nih betul apa enggak laporannya jangan main share share aja bapak itu dari media harusnya bapak itu pinter meneliti dulu jangan main share share aja pak untuk masalah proses Saudi sama semua tau non-prosedural pak jangan ngomong ngomong non-prosedural tau semua juga saudi mah. Udah yang penting gini bapak siapa namanya kalau emang bapak berani bapak siapa namanya nanti kita urusin bareng-bareng permasalahannya dimana gitu pak,” sambungnya.

Perlu diketahui bahwa perbuatan Riman  selaku pemroses PMI unprosedural diduga telah menabrak Pasal 1 ayat 1 Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang, dimana definisinya adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. (Rahmat)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *