Partai Demokrat Pecah, Peta Politik 2024 Berubah ?

683

dutapublik.com – KARAWANG, Partai Demokrat kini tengah dilanda kekisruhan internal, beberapa kelompok dalam tubuh partai tersebut menyuarakan adanya Kongres Luar Biasa (KLB). Kubu yang kontra dengan  Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini dimotori oleh beberapa kader senior seperti Marzuki Alie, Jhoni Allen Marbun, Darmizal, Ahmad Yahya dan Tri Yulianto.

DPP Partai Demokrat sendiri sudah memecat sejumlah kadernya yang terlibat dalam Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat ( GPKPD ) secara inkonstitusional.

Sebelumnya kubu AHY sudah menuduh dugaan adanya orang dalam istana yang turut bermain dalam upaya kudeta terhadap dirinya melalui KLB namun pihak istana menolak tudingan tersebut.

Namun faktanya KLB tersebut ternyata memang benar-benar terjadi. Kubu yang kontra dengan AHY telah menyelenggarakan KLB di Sibolangit Sumatera Utara pada Jumat ( 5/3), yang akhirjya Moeldoko terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB, sehingga di Partai Demokrat kini ada dua kubu kepemimpinan yaitu kubu AHY dan Moeldoko.

Kisruh yang terjadi dalam tubuh Partai Demokrat sekarang bukanlah hal yang baru dalam percaturan dunia politik di Indonesia. Partai Golkar dan PPP juga pernah mengalami kondisi serupa.

Ada sedikit perbedaan kasus perpecahan di tubuh Partai Golkar dan PPP dulu dengan yang kini terjadi di Partai Demikrat, perpecahan di Partai Golkar dan PPP pada waktu melibatkan internal kader partai dan memunculkan kepemimpinan baru yang berasal dari dalam kader partai itu sendiri.

Sedangkan yang terjadi pada Partai Demokrat sekarang ini lebih ekstrim karena selain melibatkan kader partai, juga munculnya nama Moeldoko yang akhirnya terpilih sebagai ketua umum versi KLB. Seperti diketahui bersama, ahwa Moeldoko bukanlah kader Partai Demokrat tapi orang dalam istana yang memiliki jabatan strategis.

Jadi tudingan kubu AHY bahwa ada orang dalam istana yang diduga ikut bermain dalam upaya mengkudeta dirinya sebagai ketua umum Partai Demokrat yang sah sangat beralasan.

Apa yang pernah terjadi pada Partai Golkar, PPP dan kini Partai Demokrat
sangat tidak baik bagi dunia Demokrasi di Indonesia. Dan hal tersebut juga membuktikan bahwa Indonesia tidak punya tradisi Demokrasi yang baik dan mapan, yaitu ada etika politik dan mengetahui batas – batas tertentu dalam konflik.

Publik akan melihat sejauh mana adu kekuatan dua kubu yang kini ada di tubuh Partai Demokrat serta pengaruhnya pada peta politik di tahun 2024 nantinya. Dan publik pun akan menunggu apa yang akan dilakukan Pemerintah dalam menyikapi konflik di tubuh Partai Demokrat. (endang andi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *