dutapublik.com, BLORA – Puluhan warga Desa Plantungan Kecamatan Blora Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Senin (20/12), menggelar aksi protes kepada Kepala Desa lantaran penjaringan perangkat desa diduga ada kecurangan dan tidak transparan.
Ketua BPD Plantungan Mohammad Muslimin, yang juga pimpinan korlap aksi mengatakan, bahwa penjaringan perangkat desa (Perades) ini diduga terjadi money politik. Karena pada saat panitia sudah dibentuk, dan sebelum penutupan pendaftaran tiba-tiba panitia pendaftaran diberhentikan oleh Kades.
“Setelah saya klarifikasi bersama beberapa teman panitia, dan saya menilai kerja panitia pimpinan Pak Sutris sudah bagus dan sesuai prosedur. Akan tetapi kades mengatakan sudah tidak kondusif dan harus dibubarkan,” jelas Muslimin, saat dimintai keterangan oleh awak media, padacSelasa (21/12).
Dikatakan Muslimin, suami dari Kades, yang bernama Ahmad Hanafi (Pipin) datang langsung ke rumah Surip yang notabene sebagai ketua panitia lama, Pipin juga mengatakan sudah tidak kondusif dan harus dibubarkan.
Selanjutnya, Muslimin dan beberapa temannya konfirmasi ke ketua panitia, (Surip) dan menanyakan kenapa sampai dibubarkan.
“Saya tidak mau tanda tangan saat MoU di Kecamatan Blora Mas. Dikarenakan ada salah nama,” jelas Muslimin yang menirukan jawaban Surip waktu itu.
Sementara itu, Muslimin menuturkan, kepanitiaan baru sudah terbentuk dengan musyawarah desa (Musdes) di balai desa setempat. Dalam Musdes tersebut tidak ada undangan untuk warga dari kepala desa.
“Warga tidak dapat undangan untuk Musdes. Semuanya diputuskan sepihak, karena musyawarah tersebut tidak dihadiri seluruh element yang ada,” ungkapnya.
Dijelaskannya, setelah kepanitiaan baru terbentuk, semua anggota panitia pun diganti, dan nama-nama anggota panitia baru tidak diumumkan di papan pengumuman balai desa. Karena diduga terindikasi ada orang tua dari bakal calon perangkat desa dan saudara dari calon perangkat desa.
“Kepanitiaan yang baru kini diketuai oleh Pipin, yang tidak lain adalah suami dari Kades Plantungan, Bu Endang Susana. Pipin kesehariannya bekerja sebagai ASN guru di SD Plantungan,” jelasnya.
Karena audensi di balai desa tidak dihadiri satupun panitia, lanjut Muslimin, tapi hanya dihadiri Kades Plantungan, Bhabinkamtibmas dan Bhabinsa.
“Kami semua memutuskan untuk meminta keterangan kepada Dinas PMD. Namun dari dinas tersebut belum ada yang menerima kami, lantaran pejabatnya masih diluar. Akhirnya kami semua audensi di depan kantor PMD, yang dijaga oleh pihak Kepolisian Blora,” terangnya.
Perlu diketahui, sampai berita ini dipublikasikan, pihak PMD Blora, Camat Blora dan ketua panitia yang baru Pipin belum bisa ditemui untuk dimintai keterangan. (Ysn)





