Sosialisasi Pola Tanam Tradisional Sunda di Karawang: Dorong Pertanian Berbasis Budaya dan Ekologi

159

dutapublik.com, KARAWANG – Yayasan Aghistna Zambrud Khatulistiwa menggelar Sosialisasi Rekognisi Pola Tanam Padi Budaya Leluhur Sunda dengan tema “Sistem Pertanian Ekuilibrium Ekologi Berbasis Kebudayaan Sunda” yang bertujuan untuk memperkenalkan dan memperkuat sistem pertanian tradisional berbasis budaya kepada para petani dan generasi milenial di Kabupaten Karawang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2025 dari Kementerian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, yang dilaksanakan di SMK Pratama Mulya, Ciampel-Karawang, dan dihadiri oleh sekitar 50 peserta, terdiri dari kelompok tani, aktivis, tokoh pemuda, hingga tokoh masyarakat.

Baca Juga:  Sosialisasi Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK Dan WBBM Tahun 2025 Oleh Itwasda Dan Biro Rena Polda Riau Di Polresta Pekanbaru

Sosialisasi ini menjadi momen penting dalam upaya konsolidasi dan rekonsiliasi kekayaan intelektual agronomi komunal Sunda, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan sistem pertanian dari model subsisten tradisional ke arah pertanian komersial yang lebih masif.

Narasumber dari berbagai institusi turut hadir, seperti akademisi dari Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang, UNSIKA Karawang, serta sejumlah budayawan lokal.

“Kami ingin metode bertani tradisional ini tidak hilang di tengah arus modernisasi. Justru harus dikembangkan dan disesuaikan agar tetap relevan,” ujar Fera Nuraprianti, S.Pd, selaku ketua pelaksana kegiatan.

Baca Juga:  Lapas Kelas IIA Cikarang Antisipasi Gangguan Kamtib Jelang Natal Dan Tahun Baru

Sementara itu, budayawan Karawang Amar, S.Pd, turut mengingatkan bahwa pertanian berbasis budaya bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga bagian dari identitas dan keberlanjutan warisan leluhur.

“Kemajuan budaya Jawa Barat, khususnya Karawang, akan makin kuat jika kita mampu menjaga tradisi bertani warisan leluhur ini,” katanya.

Kegiatan ini menjadi bukti konkret sinergi antara pelestarian budaya dan praktik pertanian, sekaligus upaya memperkuat kesadaran ekologis di kalangan petani dan generasi muda. (Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *