Tak Manusiawi, Oknum Pengurus NPCI Kabupaten Bekasi Diduga Gelapkan Uang Binaan Pelatihan Atlet Penyandang Disabilitas

628

dutapublik.com, BEKASI – Atlet binaan National Paralympic Comitte Indonesia (NPCI) Kabupaten Bekasi, keluhkan Uang Binaan Pelatihan yang hingga saat ini belum juga mereka terima, hal tersebut disampaikan mereka kepada awak media, di salah satu rumah Atlet yang berada di Kecamatan Setu, pada Jumat (18/6) sore.

Dengan didampingi kuasa hukumnya, 7 Atlet Disabilitas dan salah satunya mantan Pengurus NPCI Kabupaten Bekasi mengaku, hingga saat ini mereka belum mendapatkan jawaban dari Pengurus NPCI terkait Dana Binaan yang harusnya mereka dapatkan tiap bulannya.

Menurut Tasha, salah satu Atlet Splinter yang pernah mendapatkan 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu, selama dirinya bergabung di NPCI Kabupaten Bekasi, sejak 2020 hanya mendapatkan sekali, yaitu di bulan Januari 2021 saja.

“Selama ikut di NPCI Kabupaten Bekasi, hanya satu kali saya dapatkan Uang Binaan, sebesar 800 ribu. Itu pun dipotong 100 ribu, katanya untuk uang lelah yang mengurus administrasinya,” ujar Tasha.

Tidak hanya Tasha saja, rekan-rekannya pun mengalami hal yang sama, bahkan Rijal, Atlet Goal Ball yang sejak tahun 2017, tidak mendapatkan Uang Binaan yang seharusnya mereka dapatkan tiap bulannya.

Sedangkan salah satu mantan Ketua Seksi Bina Prestasi NPCI Kabupaten Bekasi Ankara, harus menerima kenyataan pahit. Dirinya mengaku diberhentikan sepihak lantaran sempat menanyakan Uang Binaan yang selama ini diduga tidak jelas kemana.

“Saya diberhentikan sepihak dan tidak ada mediasi hingga saat ini. Saya menduga pemberhentian saya, karena beberapa saat yang lalu saya sempat bertanya soal keuangan NPCI,” ujar Ankara.

Kuasa hukum para Atlet, Syahrial, dirinya dalam waktu dekat akan melakukan somasi kepada Pengurus NPCI Kabupaten Bekasi. Dengan beberapa point, diantaranya dugaan Maladministrasi terkait pemberhentian Ketua Seksi Bina Prestasi yang sepihak serta dugaan penggelapan Dana Bulanan Pembinaan Atlet.

“Saya sudah pelajari kasusnya dan ini saya melihat adanya dugaan Maladministrasi, juga meminta hak para Atlet yang hingga saat ini tidak di berikan,” ungkap Syahrial.

Syahrial sangat menyayangkan pihak pengurus NPCI, pada saat meminta tanda tangan para Atlet Tunanetra, sebelumnya tidak pernah membacakan isi perjanjian tersebut sebelum ditandatangani.

“Coba Abang bayangkan, mereka ini para Atlet adalah mayoritas Tunanetra yang jelas tidak bisa melihat. Tapi sejak mereka jadi Atlet, sudah tiga kali mereka harus tanda tangan di atas materai yang tiga kali juga mereka tidak tahu isi perjanjian seperti apa. Seharusnya isi perjanjian dibacakan. Ini salah satu bentuk pelecehan terhadap mereka para Atlet Tunanetra,” pungkasnya dengan nada kecewa. (SS)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *