dutapublik.com, JAKARTA – Sosok wanita tangguh yang berjiwa sosial tinggi dan dikenal karena sifat kedermawanannya, yaitu Hj. Jubaedah (57), yang merupakan pemilik lahan dan gudang usaha sudah 32 tahun menjadi Ketua RT sekaligus pemilik Masjid Jami Nurul Islam, Mushola, pemilik Sekolah Cendika Muslim, Donatur Yayasan Yatim Piatu 20 Yayasan dan lain sebagainya.
Hj. Jubaedah dikenal sosok yang memiliki akhlak moral dan iman ini telah mendapatkan perlakuan yang sangat dzalim oleh mafia tanah dengan cara merampas kekayaannya dengan intrik-intrik yang luar biasa menciptakan dan mengatur oknum-oknum pejabat bahkan pengadilan.
Hal ini merupakan tindakan yang tidak punya mental wawasan kebangsaan, nilai luhur Pancasila tentang rasa keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia pun telah sirna. Hj. Jubaedah memaparkan kronologi saat berada di kediamannya Kampung Jembatan RT.02/06 Kelurahan Cipinang Besar Selatan Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur, pada Jumat (17/6).
Sebagai ahli waris dari mendiang suaminya, Hj. Jubaedah menjelaskan sebenar-benarnya tentang apa yang menimpa didirinya yang diduga dilakukan oleh mafia tanah.
“Almarhum suami saya sudah menempati tanah puluhan tahun dengan bukti Ipeda dan PBB serta ganti rugi Tol lama Cawang-Tanjung Priok 1987 serta ada buku besar Kelurahan Cipinang Besar Selatan dan saya sudah jadi Ketua RT. 12 selama 32 tahun di lokasi tanah saya yang dieksekusi sangat salah objek,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Erwin Nasution selaku suami Hj. Jubaedah memperkuat pernyataan istri tercintanya, bahwa dirinya sudah mencoba tabayun ke tokoh-tokoh Ulama, Habib Lutfi, Menkopolhukam, Ketua DPD Nyala Mataliti, DPR bahkan sampai Kementerian ATR BPN yang baru bahkan Presiden Republik Indonesia.
“Sebagai Umat yang punya akhlak moral dan iman, kami sebagai muslim sudah banyak berbuat membangun Masjid Nurul Islam di lokasi tanah yang dieksekusi membangun Musholla, membangun Sekolah Muslim Cendika Muslim, Yayasan Yatim Piatu 20 Yayasan, membantu korban banjir disekitar kami, Ambulance bahkan kami sehari-hari sudah puluhan tahun lamanya di tempat usaha kami.”
“Menciptakan kelestarian Lingkungan Hidup Go Green, Usaha daur ulang yaitu Limbah Karton dan kertas bekas yang sangat menguntungkan Pemerintah dan produsen. Karena alam kita sudah tidak mampu lagi membuka lapangan kerja sektor non formal. Kebersihan, Ketertiban dan multi efek Domino, sebagai packaging ribuan merek yang dari limbahnya dari kami suplai ke pabrik-pabrik atau produsen, menghasilkan devisa Negara buat Ekspor dan multi efek ribuan merek yang sangat dibutuhkan,” urainya.
Erwin merasa sudah didzalimi oleh oknum mafia tanah.
“Kami yang mempunyai akhlak sebagai muslim sudah dihancurkan oleh para oknum-oknum dan mafia tanah sangat disayangkan tidak mempunyai rasa empati, tidak punya rasa kebangsaan dan jiwa Pancasila. Bayangkan di framing sebuah Gereja yang katanya dan dikabarkan milik Erna Emanbudhi, sudah diciptakan dengan sengaja merampas pemilik Masjid, pemilik Mushola, tempat usaha yang menguntungkan Pemerintah.”
“Kami sekarang masih tabayun, namun sangat dzalim mafia tanah sudah merasa keragaman beragama, disintegritas berbangsa seolah-olah ada pemilik Gereja yang fiktif. Diciptakan modus membobol Bank Umum Sejahtera merampas ganti rugi hak kami, merampas gudang usaha kami, sudah menghancurkan segalanya dan merampas tanah secara dzalim,” lanjut pria paruh baya keturunan batak ini.
Erwin, menduga adanya dugaan kolaborasi antara oknum-oknum dengan pejabat BPN, PPAT yang bahkan sangat merugikan negara ini yaitu bobol Bank Umum Sejahtera (Likuidasi).
“Ini semua kami sampaikan ada fakta hukum yang sangat kuat. Mohon semua ini dilakukan tindakan penyelidikan dan penyidikan menyeluruh dari Aparat yang berwenang seadil adilnya, agar mafia tanah tidak lagi ada di bumi Indonesia yang kita cintai ini,” tutupnya dengan penuh harapan. (E. Bule)





