dutapublik.com – KARAWANG Kewaspadaan orang tua terhadap keselamatan putra-putri nya sangatlahpenting, jangan sampai karena lengah berakibat kehilangan putra tersayang untuk selama-lamanya.

Kejadian miris yang menimpa bocah malang bernama Akbar, putra bungsu pasangan Kandi dan Siti harus menjadi peringatan akan pentingnya perhatian dan kewaspadaan orang tua ketika si anak sedang bermain, apalagi jika tempat bermainnya memiliki resiko bahaya yang tinggi seperti saluran irigasi.
Akbar (8 tahun) bocah kelas 2 SD tenggelam dan terseret arus air irigasi pada hari Senin (28/6/2021) sekitar pukul 13.00 siang. Dan sampai berita ini dirilis, jenazah Akbar masih belum temukan.

Tim SAR gabungan dan aparat Polsek Jatisari dari kemarin masih terus berupaya melakukan pencarian jenazah korban.
Dari keterangan warga sekitar yang melihat langsung tenggelamnya Akbar, diketahui bahwa korban bersama tiga rekannya sedang mencari Tutut (sejenis keong ukuran kecil) di bantaran irigasi. Karena bantaran tersebut licin, korban terpeleset dan terseret arus air irigasi.
Warga yang melihat kejadian tersebut berusaha menyelematkan Akbar, namun tubuh korban sudah terlanjur masuk ke dalam saluran bawah tanah (sipon) irigasi. Seperti diketahui Sipon atau saluran bawah tanah tersebut adalah saluran penghubung dibawah aliran sungai Ciherang yang menghubungkan dua aliran irigasi yang terpotong oleh sungai tersebut.

Kondisi inilah yang menyebabkan Tim SAR mengalami kesulitan dalam mencari jenazah korban.
“Tubuh korban yang masuk saluran sipon ini yang membuat kami kesulitan, kami tidak bisa memasuki saluran ini karena sangat berbahaya,” ungkap anggota Tim SAR.
Saat ini Tim SAR bersama warga sekitar masih terus berupaya melakukan pencarian, dan berharap tubuh korban segera timbul ke permukaan. (endang andi)





