dutapublik.com, KARAWANG – Bedah kasus dugaan korupsi Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk SD (Sekolah Dasar) sangat menarik untuk diungkap ke publik. Betapa tidak, Dana BOS yang seharusnya digunakan untuk operasional sekolah diduga kuat menjadi obyek korupsi dengan berbagai macam modus.
Patut diduga pihak-pihak yang terlibat dalam merampok Dana BOS dari berbagai level tingkatan pejabat, mulai dari oknum Kepala Sekolah, oknum Korwilcambidik (Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan), dan juga oknum pejabat di Disdikpora Karawang.
Menurut mantan Bendahara Sekolah Dasar di Karawang yang meminta namanya dirahasiakan dengan alasan keamanan, mengatakan bahwa Dana BOS SD mayoritas dikuasai oleh Kepala Sekolah bahkan tupoksi Bendahara Sekolah dapat dikatakan dianggap tidak ada.
“Dana BOS itu setelah dicairkan dari bank langsung dipegang Kepala Sekolah bukan oleh Bendahara Sekolah. Hampir semua Dana BOS dipegang Kepala Sekolah, Bendahara Sekolah gak tau apa-apa,” ujar narasumber kepada dutapublik.com, beberapa waktu lalu.
Masih kata narasumber, Dana BOS SD di Karawang dapat dikategorikan sebagai Korupsi Berjamaah. Pasalnya hampir semua lini di dunia pendidikan kecipratan Dana BOS yang dipastikan tidak sesuai dengan peruntukan.
Bahkan kata narasumber, salah satu oknum Korwilcambidik sampai berani meminta jatah para Kepala Sekolah sebesar Rp900 per siswa.
“Ada oknum Korwilcambidik punya pola kerup Dana BOS dimana modusnya satu siswa dipatok Rp900 dari Dana BOS, kalau dikalikan misalnya satu kecamatan ada 10 ribu siswa total Rp9 juta dari Dana BOS dikeluarkan para Kepala Sekolah untuk kepentingan yang tidak sesuai peruntukan,” jelasnya.
Belum lagi kata narasumber, dari Dana BOS tersebut kembali menjadi bancakan dimana Kepala Sekolah minta jatah Rp2,5 juta tiap Dana BOS cair, Rp500 ribu dijatah untuk Bendahara Sekolah dan guru-guru kebagian Rp200 ribu per orang dari setiap pencairan Dana BOS.
Saking kacaunya pengaturan penggunana Dana BOS, narasumber yang juga mengajar di kelas bawah ini juga sempat dibuat kesal, dimana ia awalnya meminta spidol dari Dana BOS namun tidak dikasih Kepala Sekolah dengan alasana Dana BOS habis.
“Alasannya Dana BOS habis, ya sudahlah saya terpaksa pakai uang pribadi untuk beli spidol kebutuhan kelas,” pungkasnya. (uya)





