dutapublik.com, PONTIANAK – Peristiwa pengeroyokan yang terjadi di Hotel Transera, Jalan Gajah Mada, Pontianak Selatan, masih bergulir dan menjadi sorotan publik. Salah seorang pengunjung hotel tiba-tiba diserang dan dikeroyok oleh belasan pria yang diduga berasal dari Perguruan Silat Tradisi Sendeng Pukol Tujoh, Kamis (04/12/2025).
Aksi pengeroyokan tersebut terjadi pada Senin (10/11) sekitar pukul 21.50 WIB. Korban bernama Sahrudin alias Arul mengalami luka di bagian wajah, kening robek akibat pukulan benda tumpul, mata kanan lebam hingga mengeluarkan darah, serta memar pada tubuh akibat tendangan dan pukulan. Rekaman CCTV menunjukkan beberapa pelaku bahkan menggunakan kursi dalam aksi brutal tersebut.
Hingga hampir satu bulan pascakejadian, baru satu pelaku yang menyerahkan diri, sementara pelaku lainnya belum ditangkap oleh Polresta Pontianak.
Kronologi Kejadian
Pengeroyokan bermula saat korban dan para pelaku menghadiri acara Bedah Buku yang diselenggarakan Persatuan Silat Pukol Tujoh (PSPT) Kalimantan Barat di Hotel Transera.
Menurut Arul, kericuhan terjadi setelah sesi tanya jawab memicu ketegangan antar peserta. Ia berupaya melerai keributan yang mengarah kepada guru besar mereka yang berusia 71 tahun. Namun ia justru menjadi sasaran pengeroyokan.
“Saya dikeroyok, dipukul pakai kursi, ditendang, diinjak, dan dipukul saat sudah jatuh terbaring,” ujar Arul.
Selain Arul, Panglima Besar Satria Pembela Melayu (SPM), Awaludin alias Odeng, juga menjadi korban pemukulan.
Arul telah melaporkan kejadian tersebut pada 10 November 2025, tetapi hingga kini belum ada pelaku lain yang ditangkap.
Desakan dari Pihak Organisasi
Ketua Umum Yayasan Silat Pukol Tujoh, Daeng Ridwansyah, menegaskan bahwa pihaknya sudah menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada Polresta Pontianak, namun kecewa karena belum ada tindak lanjut signifikan.
“Kami meminta kepolisian segera menangkap para pelaku. Jangan sampai kepercayaan kami hilang,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Panglima Besar SPM, Awaludin.
“Bukti CCTV sangat jelas. Jika kasus ini terus dibiarkan, anggota kami akan sulit dibendung,” ujarnya.
Ketua PSPT sekaligus penyelenggara acara, Agus Setiadi, sangat menyayangkan kejadian memalukan tersebut, terlebih berlangsung saat pejabat daerah dan para undangan masih berada di lokasi.
Ia menyebut lambannya penanganan kasus bisa membuat para pelaku merasa kebal hukum. (Mat Zeni)





