dutapublik.com, KUBU RAYA – Penolakan Dr. Syarif, MA sebagai calon Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat masa khidmat 2022-2027 terus menguat. Hal ini datang dari salah satu tokoh Madura Kalbar Ustaz Syamsuddin MZ yang menyatakan bahwa Dr. Syarif, MA tak layak maju sebagai calon ketua PWNU Kalbar.
“Saya cukup mengenal baik jejak rekam Pak Syarif sejak tahun 2002-2003 mengenal dan mengikuti organisasi Jam’iaytul Islamiyah yang saat ini guru besarnya adalah Dr. Aswin Rose Yusuf itu. Tak heran ia kemudian aktif hingga menjadi bagian dari Pengurus Daerah JMI Kalbar sebagai wakil Ketua,” ujar Syamsudin.
Menurutnya, meskipun saat ini ia sudah tidak lagi beraktivitas sebagai pendakwah JMI tetapi dalam banyak ceramahnya seringkali menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat.
“Pernah suatu ketika beberapa tahun yang lalu Pak Syarif ini diundang oleh saya dalam sebuah acara Tabligh Akbar Peringatan Isra mi’raj di Parit Baru Desa Sungai Asam Kabupaten Kubu Raya. Saat beliau sedang berceramah tiba-tiba masyarakat memintanya untuk turun karena beberapa ceramahnya yang kontroversi. Saksinya banyak kok yang hadir dalam kegiatan tersebut jadi bisa dikonfirmasi,” ujarnya yang sehari-hari bekerja sebagai Wiraswasta ini.
Ia menambahkan bahwa diantara beberapa statement dan ajaran Dr. Syarif, MA yang dianggap kontroversial antara lain ialah soal menghayalkan Baitullah ketika sedang melaksanakan Sholat. Selain itu ia juga memiliki perbedaan pemahaman soal Muhammad bin Abdillah yang sudah wafat dan Muhammad Rasulullah SAW yang saat ini masih hidup sebagai dua entitas berbeda.
Atas pandangan keagamaannya inilah Ustaz Syamsuddin mengajak Dr. Syarif, MA untuk melakukan klarifikasi terbuka atas keterlibatan dan aktivitasnya di JMI meskipun saat ini ia sudah tidak lagi aktif di struktur JMI karena saat ini mengemban amanah sebagai rektor IAIN Pontianak.
Menurutnya, Ketua PWNU Kalbar kedepan mestilah sosok yang bersih dan sejalan amaliahnya dengan amaliah yang diusung masyarakat Kalbar khususnya warga Nahdliyin seperti talqin, tahlilan, manaqiban, ziarah kubur, dan sebagainya.
“NU mestinya diurus oleh seseorang yang punya niatan ikhlas untuk berkhidmat dan bukan karena kepentingan sesaat apalagi kepentingan untuk memperoleh jabatan tertentu karena NU ini adalah organisasi para ulama dan orang yang khidmat pada risalah keulamaan,” harapnya. (Yusril)


