Projek Tanggap Darurat Saat Ini Ambruk, Negara Berpotensi Dirugikan Oleh Para Terduga Mafia Proyek

566

dutapublik.com, KARAWANG – Diduga ambruknya Projek Tanggap Darurat yang ditangani oleh pihak Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) sangat berpotensi merugikan Keuangan Negara, namun sepertinya dianggap seperti angin lalu.

Dari pantauan Awak Media, pasca ambruknya Projek Tanggap Darurat yang pekerjaannya di bantaran Sungai Citarum, berlokasi di Dusun Tenjojaya Desa Telukbuyung Kecamatan Pakisjaya Kabupaten Karawang, hingga saat ini tidak ada tanda-tanda pihak yang memiliki otoritas baik Pemerintah, APH serta pihak terkait datang mengevaluasi kinerja pihak yang melakukan pekerjaan.

Pihak BBWSC yang diwakili Singgih, menerangkan bahwa Proyek pekerjaan tersebut volumenya 130 meter sebanyak 2 titik dalam satu lokasi dan tempat, yang mengunakan tumpukan karung diisi tanah dan menggunakan material tiang dolken, manfaatnya dipergunakan sebagai penahan limpasan air.

Baca Juga:  Reses III Tahun 2021-2022 Jejen Sayuti Jaring Aspirasi Warga Cipayung Dan Kedungwaringin

Namun hasil pekerjaan Projek Tanggap Darurat yang lokasi pekerjaanya berada disisi Bantaran Sungai Citarum, tejadi pada malam Senin 2 Januari 2022, nyaris ambruk total.

“Dikarenakan adanya sumber mata air,” ungkap Singgih beberapa waktu lalu.

Diduga ambruknya Projek Tanggap Darurat yang konstruksinya berupa tumpukan karung dan menggunakan material tiang dolken berpotensi mengakibatkan kerugian uang negara.

Baca Juga:  Pekerjaan Proyek PT. Brantas Di Kecamatan Batujaya Ramai Direspon Positif Warga Dan Sosial Kontrol

Secara faktual di lapangan pekerjaan tersebut belum sampai satu minggu selesai dikerjakan. Projek Tanggap Darurat Ambruk, lalu dibangun kembali dengan memakai batu bronjong, dibantu oleh alat berat berupa Excavator.

Pekerjaan yang tidak dilengkapi papan projek tersebut sebagai mana lazimnya sebagai informasi publik. Nama pekerjaan, asal anggaran, nilai anggaran, nama perusahaan penyedia barang dan jasa jangka waktu pekerjaanya, sama sekali tidak diketahui.

Alasannya karena projek Tanggap Darurat, dan hasil pelaksanaannya terkesan seperti Proyek Gagal Tanggap Darurat. (Bunsal)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *