dutapublik.com, KARAWANG – SMKN 1 Karawang menggelar Konferensi Pers perihal dugaan pungutan uang sumbangan sebesar Rp3 juta rupiah yang dibebankan kepada orang tua siswa untuk pembangunan gedung sekolah.
Konferensi Pers tersebut dihadiri oleh Kepala Sekolah SMKN 1 Karawang, Drs. Makmur, M.T., Komite SMKN 1 Karawang, Drs. Endang Supriatna M.Pd., dan puluhan wartawan dari berbagai media, pada Selasa (14/3) siang di ruang aula SMKN 1 Karawang.
Menurut Ketua Komite SMKN 1 Karawang Endang Supriatna yang didampingi Kepala Sekolah SMKN 1 Karawang, Makmur menjelaskan bahwa kebijakan sumbangan siswa sebesar Rp3 juta sudah berdasarkan hasil rapat yang dihadiri kurang lebih 660 orang tua siswa serta dihadiri pula oleh Wakil Saber Pungli Kabupaten Karawang.
“Dari sisi regulasi bahwa besaran sumbangan itu berdasarkan pelaksanaan rapat antara pihak sekolah dengan orang tua siswa. Dari jumlah 800 an siswa dikurangi oleh siswa yang menggunakan jalur Keterangan Tidak Mampu (KTP), Sehingga yang hadir sebanyak 660 siswa yang mampu,” kata Endang.
Dalam rapat lanjutnya, kebutuhan anggaran yang diperlukan untuk program pembangunan SMKN 1 Karawang dan lainnya, total keseluruhannya sebesar kurang lebih Rp11 Milyar. Dengan anggaran bantuan dari pemerintah sebesar Rp7 Miliar sehingga masih memiliki kekurangan sekitar Rp3 Miliaran lebih.
“Kekurangan ini boleh kita meminta kepada orang tua siswa dalam bentuk sumbangan. Kami pun menanyakan kembali kepada orang tua siswa dan mereka sepakat dengan biaya sumbangan sebesar Rp3 juta, jadi bukan dari kami tapi dari hasil kesepakatan orang tua siswa,” tegasnya.
“Anak-anak kelas X jurusan Listrik dan Bangunan juga banyak yang menyampaikan berkas-berkas permohonan untuk dibebaskan dari sumbangan itu,” kata Endang lagi.
Ia menambahkan, untuk teknis pembayarannya pun terserah, bisa sekaligus ataupun mencicil. Pihaknya pun memaklumi karena banyak juga orang tua siswa yang tidak mampu sehingga tidak ada paksaan.
“Kami tidak memaksakan, namanya juga sumbangan. Karena program yang kita anggarkan itu masih kurang jadi kita minta bantuan siswa, kita kedodoran banget, sementara banyak program-program yang harus terlaksana,” pungkas Endang. (Bunsal)



