dutapublik.com, JAKARTA – Seorang Perwira Tinggi (PATI) Polri yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Agus Flores merupakan sosok lama yang memiliki pengaruh kuat di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Menurutnya, rekam jejak Agus Flores telah dikenal luas dan dianggap sebagai tokoh nasional, khususnya pada masa kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. “Sejak zaman Kapolri sebelumnya, Agus Flores sudah berkecimpung di Divisi Humas Polri, tepatnya saat Karopenmas Divhumas Polri dijabat Komjen Pol Dedi Prasetyo (kini Wakapolri). Saat itu, perannya masih di tingkat humas, namun sekarang jauh lebih signifikan,” ujar PATI tersebut saat dikonfirmasi media, Selasa (24/3).
Ia menambahkan, Agus Flores disebut kerap berkomunikasi langsung dengan Kapolri melalui aplikasi WhatsApp, dan setiap laporan yang disampaikan dinilai akurat serta cepat ditindaklanjuti.
“Laporannya hampir selalu A1 dan langsung ditindaklanjuti,” tegasnya.
Lebih lanjut, PATI tersebut juga menyebut bahwa Agus Flores diduga berperan dalam pembebasan 10 aktivis di Sulawesi Tenggara, hanya melalui penyampaian informasi kepada Kapolri.
“Itu juga bagian dari kontribusi Agus Flores. Setelah dilaporkan, 10 aktivis tersebut dibebaskan,” ungkapnya.
Ia menilai tingkat kesalahan (human error) dalam laporan Agus Flores sangat kecil. “Menurut saya, tingkat human error laporan Agus Flores ke Kapolri hanya sekitar 8 persen. Jangan melihat dari penampilannya yang sederhana dan nyentrik. Ia seperti ‘mata dan telinga’ Kapolri dalam memantau kondisi masyarakat di lapangan,” jelasnya.
Selain itu, PATI tersebut juga menyoroti keberanian Agus Flores yang disebut sebagai satu-satunya sosok yang berani menyebut Kapolri dengan sebutan “Arjuna”. “Siapa yang berani memanggil Kapolri dengan nama ‘Arjuna’? Hanya Agus Flores,” ujarnya.
Diketahui, PATI tersebut sebelumnya berpangkat Komisaris Besar (Kombes) dan pernah bertugas di wilayah Sulawesi Tengah.






