Ani, Mafia TPPO ‘Kaki Lima’ Diduga Intimidasi Keluarga PMI Ilegal Timur Tengah Asal Kabupaten Karawang Harus Bayar Uang Denda

254

dutapublik.com, KARAWANG – P3MI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia) maupun pihak pemroses PMI (Pekerja Migran Indonesia) perseorangan atau ‘Kaki Lima’, seharusnya mengindahkan dan mematuhi Kepmenaker nomor 260 tahun 2015 tentang Penghentian Dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Pada Pengguna Perseorangan Di Negara-Negara Kawasan Timur Tengah.

Namun, Kepmenaker nomor 260 tahun 2015 tersebut, secara jelas dan terang-terangan diduga ditabrak oleh, Ani, selaku pemroses PMI ilegal Timur Tengah untuk dijadikan asisten rumah tangga (ART) atau pembantu.

Nyatanya, Ani, pada 1 September 2024, telah menemptakan, Na, warga Desa Sumberjaya Kecamatan Tempuran Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ke negara kawasan Timur Tengah untuk dijadikan ART secara non prosedural.

Na, yang merupakan korban dugaan kejahatan TPPO (tindak pidana perdagangan orang) yang dilakukan oleh, Ani, dan antek-anteknya, kini telah pulang ke kampung halamannya, pada Kamis, 12 September 2024. Na, dipulangkan oleh Sang Majikan warga negara Negeri Unta, dikarenakan mengalami cedera akibat terjatuh dari tangga lantai 3.

Kepulangan, Na, bukannya mendapat perhatian dan santunan dari, Ani, dan sponsor Hj. Entin, serta H. Odih, namun malah mendapatkan dugaan intimidasi dari, Ani, Hj. Entin, dan H. Odih (suami dari, Hj. Entin).

Ani, melalui pesan suara yang ditujukan kepada orang tua, Na, menyalahkan, Na, dan meminta uang ganti rugi dengan nada bicara yang tinggi.

“Ngomong aja ke sponsornya, bilangnya ga ada uang, menyepelekan sih. Emangnya cuku sejuta? Saya ngasih uang vitnya aja ke Ibu Entin berapa coba? belum lagi medikal, Pasporan, Basmah, Tiket, handel, berapa coba? Emangnya cukup bilang maaf gak bisa ganti? Saya baru ada TKW seminggu pulang ke Indonesia. Udah mah merepotkan orang, masih aja ngotot gak punya uang. Ngomong ke sponsornya. Jangan ngomong ke saya,” ujarnya.

Kemudian, Ani, menyalahkan, Na, yang katanya tidak ada niat bekerja di Timur Tengah untuk menjadi ART atau pembantu.

“Kata orang kantor Saudi, Na, gak kerja, gak makan, hanya mainin Hp. Kan, itu mah udah niat gak mau kerja. Kalau gak niat kerja, jangan mengecewakan dan merugikan orang lain. Kalau ingin tahu, gara-gara anak Bapak, orang kantor kalau belum diganti kerugiannya gak mau kerja sama lagi dengan saya. Mungkin, Na, jatuhnya karena disengaja, karena gak mau makan jadi lemes. Bisa ga bisa, saya minta diganti uang medikal, Paspor, Basmah, dan uang vit,” katanya.

Sementara, Ani, saat dimintai tanggapannya oleh media dutapublik.com, yang bersangkutan masih memilih BUNGKAM hingga berita ini dipublikasikan. (Nendi Wirasasmita)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *