Pergantian Kapolres Madina Diwarnai Pembakaran Polsek Muara Batang Gadis, Aktivis Nilai Penegakan Hukum Gagal

62

dutapublik.com, MADINA – Pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Resor (Polres) Mandailing Natal (Madina) diwarnai insiden pembakaran Mapolsek Muara Batang Gadis (MBG) oleh sekelompok warga. Peristiwa tersebut terjadi bertepatan dengan momentum pergantian Kapolres Madina dan memicu sorotan tajam terhadap kinerja aparat kepolisian serta kehadiran negara dalam menjamin rasa keadilan dan keamanan masyarakat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi pembakaran Polsek Muara Batang Gadis dipicu oleh akumulasi kekecewaan warga terhadap penanganan berbagai persoalan hukum di wilayah tersebut. Masyarakat menilai aparat penegak hukum lamban dan tidak tegas dalam merespons beragam bentuk keresahan, khususnya terkait maraknya peredaran narkoba.

Aktivis Mandailing Natal, Pajarur Rohman, menilai peristiwa tersebut merupakan bukti nyata kegagalan penegakan hukum di wilayah hukum Polres Madina. Menurutnya, kemarahan warga tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan akibat ketidakpercayaan yang telah terbangun dalam waktu lama.

“Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Ini merupakan akumulasi dari rasa ketidakadilan yang dirasakan masyarakat dalam waktu lama. Ketika hukum tidak hadir secara adil dan tegas, masyarakat akhirnya meluapkan kekecewaan dengan cara yang keliru,” ujar Pajarur Rohman.

Ia menegaskan bahwa pergantian Kapolres Madina harus dijadikan momentum evaluasi menyeluruh terhadap kinerja kepolisian, terutama dalam penanganan kasus-kasus yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat. Pajarur juga menyoroti lemahnya penindakan terhadap peredaran narkoba yang dinilai semakin merusak generasi muda di Mandailing Natal.

“Penegakan hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Jika kondisi ini terus dibiarkan, kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian akan semakin tergerus,” tambahnya.

Ia mendesak agar aparat kepolisian tidak hanya fokus pada penindakan pascakejadian, tetapi juga melakukan pembenahan internal, evaluasi kinerja, serta mengedepankan pendekatan humanis dan transparan guna mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa mendatang. (S.N)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *