dutapublik.com, KARAWANG – Saksi mata kejadian yang juga berprofesi sebagai wartawan, Urta Sutawijaya yang sering disapa Kang Tolay menjelaskan duduk perkara terkait adanya fitnah yang dilakukan wartawan korban pengeroyokan bernama Damanhuri terhadap wartawan berinisial BS, dan AL. Damanhuri kata Tolay setelah 86 (damai) kasus pengeroyokan lalu memfitnah bahwa BS dan AL ada di video yang katanya berisi upaya pemerasan terhadap Mulyana selakuk Kades Waluya Kecamatan Kutawaluya
Tolay mengaku memfasilitasi Kades Waluya untuk klarifikasi berita dugaan pungli dana BPNT Desa Waluya Kecamatan Kutawaluya pada hari Sabtu 5 Maret 2022 di Cafe Aska. Adapun pihak wartawan yang diundang adalah media dutapublik yang diwakili BS dan tribun post yang diwakili AL.
“Jadi BS dan AL diundang oleh Kades Waluya dan staf desa Waluya guna klarifikasi. Pada waktu itu pihak Pemdes Waluya memohon kepada kedua wartawan tersebut agar berita dihapus dan diganti oleh berita yang bersifat profil iklan,” ujar Tolay.
Lanjut Tolay, dua orang wartawan menjelaskan kepada Pemdes Waluya bahwa berita tidak bisa dihapus. Lalu Kades Waluya langsung memohon-mohon agar kedua wartawan menerbitkan berita profil atau iklan yang tentunya ada beban biaya yang harus dipenuhi oleh pihak pemohon iklan.
Kata Tolay, setelah nominal harga profil atau iklan disampaikan kepada Pemdes. Namun pihak pemohon iklan tidak sanggup membayar iklan. “Wal hasil nihil gagal tidak jadi alias iklan batal,” jelasnya.
Tolay mengaku sangat menyayangkan beredar berita kalau Damanhuri terpaksa berdamai atau 86 dengan para tersangka pengeroyokan berdasarkan rasa kasihan jika dua wartawan tersebut akan dikasuskan dalam perkara dugaan pemerasan.
“Jadi Damanhuri mengkaitkan upaya 86 (damai) nya dengan para tersangka dengan adanya video bahwa ada dua wartawan minta duit itu kurang tepat. Kalau mau 86 kasus ya ga usah bawa-bawa wartawan yang lain, seolah-olah iba padahal kan tujuannya mau 86 kasus, yang kita tau ga gratis,” ujarnya.
Sementara itu Damanhuri menyangkal bahwa dirinya bersama 2 wartawan lainnya melakukan 86 atau berdamai dengan para tersangka pengeroyokan karena kasihan dengan dua wartawan yang katanya melakukan pemerasan. “Gak gak benar itu,” singkat Damanhuri. (uya)





