dutapublik.com, MAJALENGKA – Hari jadi Kabupaten Majalengka yang diperingati pada Selasa 7 Juni 2022, tidak dilewatkan pula oleh Sanggar Seni Parachiyangan yang menggelar Festival Jaga Jarak Ke-6 di Dusun Leuwimukti Desa Ligung Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Selasa (7/6).
Festival Jaga Jarak sendiri sudah dilalukan beberapa kali dan kali ini sekaligus memperingati hari jadi Kabupaten Majalengka yang ke 532 Tahun.
Menurut Abah Geri Sukirman, selaku ketua Sanggar Seni Parachiyangan menjelaskan, bahwa nama Festival Jaga Jarak itu tercipta saat awal pandemi karena seluruh aspek termasuk kesenian seakan mengalami mati suri.
“Apalagi pemerintah menerapkan PSBB, maka kami selaku pelaku seni berinisiatif memberi nama Festival Jaga Jarak pada tanggal 26 Juli 2020 lalu,” ujarnya.
Masih menurut Abah Geri, jika kegiatn tersebut sekaligus untuk memperingati hari jadi Majalengka yang ke 532 tahun yang dihadiri oleh beberapa komunitas kesenian seperti Berokan.
Sementara itu Kang Engkus yang merupakan perwakilan dari Komunitas Karinding mengatakan, bahwa pihaknya sebagai penggiat Karinding sedang memulai dari titik awal lagi.
“Karena Karinding sudah tidak dikenal dan bagai tenggelam dimakan jaman. Namun dengan adanya acara ini diharapkan dapat dikenal luas terutama para pemuda untuk terus melestarikan musik tradisional warisan leluhur,” katanya.
Salah satu perwakilan Taruna Mandiri dari Desa Salagedang yang menampilkan musik Angklung berharap besar adanya perhatian dari pemerintah, karena jika ada keterkaitan pemerintah acara seperti ini akan lebih menarik lagi dan makin dikenal masyarakat luas.
“Kali ini juga sangat bersyukur karena masyarakat sangat antusias untuk menyaksikan acara ini,” harapnya.
Diwaktu yang sama Iif Rivandi, selaku anggota DPRD Kabupaten Majalengka dari Fraksi PDIP berharap besar agar kesenian tradisional itu dilestarikan masyarakat luas.
“Mari kita lestarikan bersama agar tidak tergerus oleh budaya luar. Kadang saya merasa prihatin melihat remaja yang lebih menyukai budaya lain dibandingkan budaya sendiri. Menurut saya budaya luar itu tidak cocok untuk kita, kegiatan seperti ini perlu dilestarikan agar dikenal dan tidak tenggelam dimakan jaman,” pungkasnya. (Teungku Syafrudin)





