dutapublik.com, PEKANBARU – Ketua Umum DPP Santri Tani NU Indonesia T. Rusli Ahmad, S.E., M.M., lakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia Harvick Hasnul Qolbi pada Kamis silam.
Pada Kunjungan Silaturahmi tersebut, T. Rusli Ahmad menyampaikan program dari DPP Santri Tani Indonesia baik pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dan perkembangan situasi yang terjadi di tengah masyarakat petani, pada Sabtu (19/3).
Pada kesempatan perbincangan bersama Wamentan RI yang didampingi oleh Bimbing Wirastomo, S.E., yang merupakan staf ahli Wamentan. T. Rusli Ahmad juga memberikan berbagai macam paparan yang tengah dialami oleh masyarakat petani dan bertukar pikiran terkait menyukseskan salah satu program andalan Presiden Joko Widodo tentang Ketahanan Pangan Nasional.
Dalam keterangannya kepada awak media, T. Rusli Ahmad menerangkan, bahwa Wamentan menyambut hangat kunjungan dirinya.
“Bapak Wakil Menteri Pertanian RI menyambut hangat kunjungan silaturahmi saya selaku Ketua Umum DPP Santri Tani NU dan Beliau menyampaikan, bahwa di saat ini memang dibutuhkan organisasi yang langsung menyentuh kepada masyarakat petani. Karena Negara apalagi di tengah situasi pandemi ini kekuatannya ada di Ketahanan Pangan skala Nasional yang merupakan salah satu dari program Presiden Republik Indonesia,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Rusli Ahmad, program Santri Tani hingga saat ini langsung mengelola, memberi edukasi kepada petani yang berada di Desa. Baik pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan karena Santri Tani bergerak di ke 4 bidang tersebut.
“Dan oleh karena itu pada saat pertemuan, saya menyampaikan harapan kepada Bapak Wamentan untuk cek dan ricek atas bantuan yang diberikan. Kita mengetahui begitu besar perhatian Pemerintah terhadap Petani, hanya saja banyak yang salah sasaran. Seperti ada persyaratan kelompok tani yang lengkap tetapi penerimanya bukan orang yang berkecimpung di bidangnya,” katanya.
Diungkapkan Rusli Ahmad, contohnya seperti Kelompok Tani mendapat bantuan sapi yang sementara Kelompok Tani tersebut tidak pernah mengelola ternak sapi. Atau kelompok Tani yang mendapat bantuan mesin, sementara kelompok Tani tersebut tidak pernah menggunakan mesin.
“Seharusnya, sebelum menerima mesin, Kelompok Tani tersebut harus lebih dahulu mendapat pelatihan tentang penggunaan mesin. Sehingga mesin tersebut tidak digunakan,” ungkapnya.
Dikarenakan hal tersebut, lanjut Rusli Ahmad, Santri Tani NU hadir dalam rangka memberdayakan lahan kosong dan memberi edukasi kepada Petani.
“Kita memiliki Kelompok Tani yang kita bina bersama Yonarhanud 13/PBY. Di mana petani kesulitan dalam memasarkan hasil panen bayam dan kangkung, selain tanaman palawija mereka. Oleh sebab itu kita berusaha mencarikan solusinya. Termasuk ketersediaan pupuk dan harga yang murah dan terjangkau.
Dijelaskannya, falam hal ini, Wamentan sangat memberi apresiasi terhadap perhatian dan program dari Santri Tani NU. Yang mana juga diharapkan program tersebut menyentuh kepada Ponpes, Mahasiswa dan Universitas yang memiliki lahan kosong dan mengajak Mahasiswa bercocok tanam, beternak ikan, peternakan yang berhubungan dengan fakultas masing-masing.
“Wamentan berharap ke depan tamatan Ponpes bukan hanya fasih di bidang keagamaan, tapi mereka juga sudah dibekali kemampuan ekonomi yang kuat. Jadi saat dilepas ke tengah masyarakat, para santri selain berdakwah terkait agama, juga dapat memberikan Dakwah terkait ketahanan pangan,” tukasnya.
Terkait harapan Wamentan, Rusli Ahmad menegaskan untuk menyangupinya.
“Itulah harapan yang disampaikan oleh Wamentan yang telah kita sanggupi dan saya juga mengharapkan kerja sama dari Kementerian Pertanian agar memberikan bantuan tepat sasaran, tepat orang, tepat geografis alam daerahnya yang masing-masing berbeda. Dan hal tersebutlah yang akan kita sinergikan dengan kementrian pertanian,’ jelasnya.
Wakil Menteri Pertanian menyampaikan kepada Ketua Umum DPP Santri Tani NU untuk tetap bersemangat di masa pandemi ini untuk menggiatkan dan menggerakkan seluruh stakeholder yang berada di desa-desa dan merekrut Alumni Ponpes dan Alumni Mahasiswa Pertanian dan mengajak PPL di lapangan untuk berkolaborasi dalam rangka meningkatkan pendapatan dan sembari memberi edukasi kepada masyarakat petani.
“Jangan menerapkan pola tradisional lagi serta harus menerapkan ritme atau ragam jenis tanaman. Jangan harga cabe naik, semua petani menanam cabe sehingga harga kembali jatuh karena cabe banyak.”
“Dengan keteraturan demikian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Terkait pemasaran hasil pertanian akan segera dicarikan solusinya. Dan saya berharap DPP Santri Tani NU dapat mengatur terkait ritme atau keberagaman tanaman tersebut,” papar Wamentan RI. (Juntak/Riau)





