Legislator PAN Jatim Suli Da’im Minta Edukasi Pelajar Soal Bahaya Petasan dan Balon Udara Tanpa Awak

69

dutapublik.com, SURABAYA – Anggota DPRD Jawa Timur, Dr. H. Suli Da’im, menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya aktivitas penerbangan balon udara tanpa awak yang disertai petasan yang banyak melibatkan pelajar mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA di Kabupaten Ponorogo. Aktivitas tersebut bahkan dilaporkan telah menimbulkan korban jiwa.

Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Timur ini mengingatkan bahwa tradisi menerbangkan balon udara sebenarnya merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Ponorogo yang perlu dihormati. Namun, ketika praktik tersebut dilakukan secara tidak terkendali, menggunakan bahan peledak berupa petasan, serta melibatkan anak-anak dan pelajar tanpa pengawasan yang memadai, maka hal itu berpotensi menimbulkan bahaya serius bagi keselamatan masyarakat.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur yang membidangi pendidikan, kepemudaan, dan kesejahteraan masyarakat itu menilai persoalan ini harus ditangani secara serius dan terpadu. “Pertama, kami mendorong pemerintah daerah, sekolah, dan orang tua untuk memperkuat edukasi kepada pelajar mengenai bahaya petasan dan balon udara tanpa awak, baik dari sisi keselamatan maupun dampak hukumnya,” ujar Kang Suli, sapaan akrab Suli Da’im, Rabu (11/3/2026).

Selain itu, pihaknya juga meminta adanya koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, kepolisian, TNI, serta pihak sekolah untuk melakukan langkah pencegahan dan pengawasan, terutama menjelang masa-masa di mana tradisi tersebut sering dilakukan. “Ketiga, kami mendorong agar tradisi balon udara dapat diarahkan dalam bentuk kegiatan yang lebih aman dan terkontrol, misalnya melalui festival balon udara yang ditambatkan (tethered) dan diawasi secara resmi, sehingga nilai budaya tetap terjaga tanpa membahayakan keselamatan masyarakat,” paparnya.

Legislator kelahiran Lamongan tersebut juga menilai sekolah-sekolah perlu mengambil peran aktif dalam pembinaan karakter dan pengawasan terhadap aktivitas pelajar di luar jam sekolah, agar anak-anak tidak terlibat dalam kegiatan yang berisiko tinggi.

Menurutnya, keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak dan pelajar, harus menjadi prioritas bersama. “Kita tentu tidak ingin tradisi yang seharusnya menjadi kebanggaan budaya justru berubah menjadi sumber bahaya yang merenggut nyawa,” tegas Ketua Umum IKA Umsura itu.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga tradisi secara bijak agar tetap aman dan tidak membahayakan. “Oleh karena itu, kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga tradisi dengan cara yang lebih bijak, aman, dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
(Muh Nurcholis)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *