dutapublik.com, MEMPAWAH – Pada Jum’at (8/4), Muhammad Wafir, jadi Khotib Sholat Jum’at di Masjid Al-Falah Desa Semparong Parit Raden Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Dalam Khutbahnya, Wafir mengajak kepada para Jamaah untuk selalu bertaqwa dan bersyukur atas segala Nikmat yang Allah berikan baik nikmat umur dan kesehatan sehingga dapat bertemu dengan bulan Suci Ramadhan 1443 H.
Menurut Wafir, begitu banyak orang-oramg di luar sana yang tidak bisa melaksanakan ibadah Puasa karena terbaring lemas di rumah sakit bahkan ada yang meninggal sebelum bertemu dengan bulan Suci Ramadhan 1443 H.
“Puasa yang Allah wajibkan Kapada kita sebagai umat Islam adalah agar supaya bertambah Taqwa dan dosa-dosa kita terbakar serta dapat mengalahkan hawa nafsu. Sebab nafsu hanya bisa dikalahkan oleh rasa lapar dan haus sebagaimana Rasulullah Saw bersabda Perangilah nafsumu dengan lapar dan haus, karena pahala dalam hal itu seperti pahala orang yang berjihad di jalan Allah SWT dan tiada amal yang lebih disukai Allah SWT daripada lapar dan haus,” ujarnya.
Selain itu, Wafir juga memberi tahu bahwa di bulan Suci Ramadhan yang penuh keberkahan ini Allah lipat gandakan pahala amal kebaikan.
“Sholat sunah sekali di bulan Ramadhan seperti Sholat wajib di bulan-bulan yang lain. Sholat wajib sekali di bulan Ramadhan seperti halnya 70 kali Sholat Wajib di bulan-bulan yang lain.”
“Kita tahu bahwa setan-setan dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup dan pintu-pintu Surga dibuka. Namun kenapa terkadang kita malas dalam beribada di bulan Ramadhan ini. padahal sudah tahu? Maka sungguh beruntung orang-orang menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memanin amal sebanyak banyaknya,” tuturnya.
Dikatakan Wafir, di bulan lain jarang mengaji, di bulan Ramadhan rajin mengaji. Di bulan lain jarang Sholat Sunah Dhuha, di bulan Ramadhan Sholat Dhuha. Di bulan lain sering meninggalkan Shalat lima waktu, di bulan Ramadhan sempurnakan Sholatnya bahkan mengqhada atau mengganti Sholat yang pernah ditinggalkan.
“Begitupun sebaliknya. Sungguh merugi orang-orang yang menyia-nyiakan bulan Ramadhan ini seperti halnya seseorang yang sudah berada di pesta pernikahan yang begitu banyak beragam hidangan namun tidak mencicipinya. Bukankah tidak ada jaminannya tahun depan kita akan bertemu kembali dengan bulan Suci Ramadhan ini walaupun umur kita masih muda,” paparnya.
Wafir juga mengingatkan kepada para Jamaah bahwa dalam Madzhab Syafi’i melakukan puasa wajib seperti halnya puasa Ramadhan dan puasa Nazar hendaknya menempatkan niat di malam harinya. Sebab bila berpuasa Ramadhan tanpa niat maka tidaklah sah Puasanya.
Dijelaskan Wafir, adapun tingkatan-tingkatan puasa terdapat tiga macam, Pertama puasanya orang awam yaitu hanya tidak makan tidak minum tetapi hanya menahan lapar dan haus saja.
Kedua puasanya orang khusus yaitu tidak hanya tidak makan dan tidak minum melainkan juga menjaga pandangannya, mulutnya, tangannya, kakinya telinganya agar tidak melanggar larangan Allah SWT.
Ketiga, puasanya orang khusus dan terkhusus, yaitu tidak hanya menahan lapar dan haus dan tidak hanya menahan seluruh anggota badannya. Melainkan juga menjaga fikiran dan hatinya agar tidak liar melainkan selalu ingat kepada Allah SWT.
“Pertanyaannya, Puasa kita termasuk ke urutan pertama, kedua atau ketiga? Hanya diri kita sendiri yang dapat menilainya,” pungkasnya. (Pathol Kurib)





