Oknum Kades Perampok Uang Rakyat vs Pemerasan Wartawan Bodrex: Siapa Yang Lebih Bajingan

221

Di tengah maraknya kasus penyelewengan jabatan, kita sering mendengar dua fenomena yang sama-sama menjijikkan yaitu oknum kepala desa (kades) yang merampok uang rakyat dan oknum wartawan “bodrex” yang beroperasi sebagai pemeras berkedok jurnalistik. Lantas, siapa yang lebih bajingan?

Perlu diketahui kepala desa adalah ujung tombak pembangunan di tingkat akar rumput. Dana desa, yang digelontorkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, justru sering menjadi ladang bancakan.
Modus korupsi yang dilakukan oknum kades beragam: mark-up proyek, penggelapan dana bantuan sosial, hingga fiktifisasi laporan anggaran.
Akibatnya? Jalan desa tetap berlubang, bantuan warga miskin tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembangunan desa mandek. Dampak korupsi ini sistemik dan merampas hak masyarakat dalam jangka panjang.
Korupsi oknum kades bukan hanya soal mencuri uang negara, tetapi juga membunuh harapan rakyat. Masyarakat yang seharusnya mendapatkan manfaat dari dana desa malah menjadi korban keserakahan pejabat desa yang mestinya melayani mereka.
Di sisi lain, ada oknum wartawan yang menyalahgunakan profesinya untuk menekan pihak tertentu demi keuntungan pribadi. Wartawan bodrex biasanya bekerja dengan cara mencari-cari kesalahan pejabat atau pengusaha lokal, lalu mengancam akan mempublikasikan berita buruk jika tidak diberi “uang tutup mulut.”
Mereka tidak bekerja untuk kepentingan publik, tetapi untuk memperkaya diri sendiri dengan dalih kebebasan pers.
Akibatnya, pejabat atau pengusaha yang takut akan citra buruk akhirnya memilih membayar suap, dan praktik ini terus berulang.
Pemerasan model ini juga merusak ekosistem jurnalisme. Wartawan bodrex merusak kepercayaan publik terhadap media, membuat pejabat antipati terhadap jurnalis sejati, dan pada akhirnya merusak fungsi pers sebagai pengawas kekuasaan.
Jika diukur dari dampak kejahatannya, korupsi oknum kades jauh lebih berbahaya daripada pemerasan wartawan bodrex. Korupsi memiskinkan masyarakat, merusak pembangunan, dan menghambat kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang.
Sementara itu, wartawan bodrex lebih beroperasi dalam lingkup personal, pemerasan mereka memang menjijikkan, tetapi tidak sampai menghancurkan sistem pemerintahan secara menyeluruh.
Namun, bukan berarti pemerasan oleh wartawan bodrex bisa dianggap remeh. Jika dibiarkan, praktik ini bisa membentuk lingkaran setan yaitu pejabat korup menutupi skandalnya dengan suap, dan wartawan palsu terus meraup keuntungan dari kebobrokan ini.
Untuk itu masyarakat harus sadar bahwa baik korupsi oknum kades maupun pemerasan wartawan bodrex adalah penyakit sosial yang harus diberantas.
Korupsi harus diperangi dengan transparansi anggaran, pengawasan ketat, dan penegakan hukum yang tegas.
Wartawan bodrex harus dilawan dengan regulasi pers yang lebih ketat serta edukasi publik agar bisa membedakan jurnalisme sejati dengan pemerasan berkedok media.
Singkatnya, oknum kades perampok uang rakyat dan wartawan bodrex sama-sama bajingan, hanya saja tingkat kehancuran yang mereka timbulkan berbeda. Yang satu merusak sistem, yang satu merusak kepercayaan. Keduanya harus diberangus tanpa kompromi!
Penulis: Yusri Amarahman Eka Hamidjaja



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *